METRO4D Togel Online

Waspada! Militer AS Dilaporkan Beli Data Lokasi Pengguna Aplikasi Muslim Pro

 

/anginsegar.com

Dilansir dari CNN Indonesia -  Militer Amerika Serikat (AS) disebut memebli data lokasi jutaan pengguna aplikasi Muslim Pro. Muslim Pro sendiri adalah sebuah aplikasi pengingat waktu sholat yang juga menyajikan 30 juz Al Quran lengkap dengan tulisan arab.

Laporan dari Motherboard seperti dikutip Vice, aplikasi dengan lebih dari 98 juta unduhan ini ternyata melacak lokasi pengguna dan menjual data itu ke milliter Amerika Serikat.

Muslim Pro adalah satu dari ratusan aplikasi smartphone yang menghasilkan uang dengan cara menjual data lokasi pengguna ke pihak ketiga. Motherboard menyebut milliter AS membeli data Muslim Pro melalui salah satu pialang data pihak ketiga tersebut.

Motherborad menemukan dua aliran data paralel terpisah yang digunakan oleh milliter AS untuk mendapatkan data lokasi.

Pertama mengandalkan sebuah perusahaan bernama Babel Street, yang menciptakan produk bernama Locate XUS Special Operations Command (USSOCOM), sebuah cabang milliter yang ditugaskan untuk melawan terorisme, kontra pemberontakan, dan pengintaian khusus. Babel Street membeli akses ke Locate X membantu operasi pasukan khusus diluar negeri.

Aliran data lainnya adalah melalui perusahaan bernama X-Mode, yang memperoleh data lokasi langsung dari aplikasi, kemudian menjual data tersebut ke kontraktor, dan dengan ekstensi, Milliter.

Laporan tersebut menyoroti industri data lokasi yang tidak jelas dan fakta bahwa milliter AS membeli akses ke data sensitif. AS terkenal telah menggunakan data lokasi untuk menargetkan serangan drone.

Banyak dari pengguna aplikasi yang terlibat dalam rantai pasokan data adalah muslim. Hal ini penting mengingat Amerika Serikat telah melancarkan perang selama puluhan tahun terhadap kelompok - kelompok teror yang di dominasi muslim di Timur Tengah.

Aplikasi yang mengirimkan data ke X-Mode salah satunya yakni termasuk Muslim Pro, sebuah aplikasi yang mengingatkan pengguna kapan harus sholat dan arah kiblat yang berkaitan erat dengan data lokasi pengguna.

X-Mode telah menjual data lokasi kepada kontraktor pertahanan. Yang ujungnya kontraktor akan memberikan data tersebut pada Departemen Pertahanan AS.

Aplikasi ini sendiri telah diunduh lebih dari 50 juta kali di Android, dan lebih dari 98 juta secara total diseluruh platform lain termasuk iOS, menurut situs web Muslim Pro.

Praktik ini telah menimbulkan kemarahan para pendukung privasi, tetapi firma data lokasi dan mitranya bersikeras bahwa pergerakan orang - orang dianonimkan dan tidak terkait secara langsung dengan identitas mereka.

Akan tetapi, beberapa penelitian telah menunjukan bahwa mudah untuk membatalkan anonimitas data lokasi dan mengikat identitas kembali ke setiap orang.

X-Mode mengatakan kepada Motherboard bahwa bisnisnya dengan kontraktor milliter terutama difokuskan pada tiga kasus penggunaan, yaitu kontra-terorisme, keamanan siber, dan prediksi hotspot Covid-19 di masa depan.

X-Mode sebelumnya telah menerbitkan data lokasi anonim dari smartphone orang untuk menunjukan pergerakan orang ke dan dari area dimana Covid-19 melonjak.

Dilansir dari Vice, pembelian tersebut patut diperhatikan karena Pentagon sebelumnya telah menggunakan data lokasi ponsel pintar untuk merencanakan dan melaksanakan operasi milliter.

Dilansir dari Business Insider, Badan Keamanan Nasional AS disebut menggunakan jenis data lokasi berbeda yang dikumpulkan dari kartu SIM ponsel untuk melakukan serangan drone terhadap tersangka anggota Taliban.

Sejauh ini belum ada pernyataan dari milliter AS terkait tuduhan ini.



0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama